Full width home advertisement

OPINI ACAK

JENAKA POS

Post Page Advertisement [Top]


Aku sering merasa hidup ini seperti sajak yang lupa dibacakan, ditulis dengan perasaan, tapi dibiarkan lapuk di sudut waktu.

Di rumah kecil yang dindingnya mulai mengelupas, aku tinggal bersama istriku dan empat anak kami. Mereka tumbuh, sementara kemampuanku seperti jalan di tempat. Perut-perut kecil itu tak pernah benar-benar mengerti alasan, hanya tahu kapan lapar datang dan kapan nasi tak tersedia.

Istriku mulai banyak diam. Dulu ia sering tertawa, bahkan untuk hal-hal sederhana. Sekarang, diamnya seperti beban yang tak kasat mata. Kadang ia bicara, tapi kata-katanya lebih tajam dari biasanya bukan karena benci, mungkin karena lelah.

Dan aku… aku tahu aku adalah tulang punggung. Setidaknya, itulah yang dunia ajarkan padaku. Tapi bagaimana jika tulang itu mulai retak?

Pekerjaan tak pernah benar-benar menetap. Hari ini ada, besok hilang. Upah kecil, harapan lebih kecil lagi. Aku pulang dengan tangan kosong lebih sering daripada membawa sesuatu.

Ada hari-hari ketika pertengkaran tak terhindarkan. Suaraku meninggi, suaranya ikut meninggi. Kata-kata yang seharusnya tak diucapkan, terlepas begitu saja. Di saat seperti itu, aku merasa menjadi orang yang paling gagal di dunia.

Aku pernah mencapai titik di mana kemarahan seperti api di dada—panas, membakar, ingin meledak. Tapi di tengah itu semua, selalu ada satu hal yang kutahan kuat-kuat: tanganku.

Aku tidak pernah memukulnya. Tidak akan pernah. Itu satu-satunya prinsip yang masih bisa kubanggakan di tengah segala kekuranganku.

Setelah pertengkaran, biasanya rumah menjadi sunyi. Anak-anak memilih diam, mungkin takut, mungkin tidak mengerti. Istriku akan duduk membelakangiku, dan aku… aku hanya bisa menatap lantai, berharap ada jawaban yang muncul dari sana.

Malam hari adalah waktu yang paling jujur. Ketika semua tidur, aku sering terjaga. Menghitung ulang hidupku, seperti menghitung utang yang tak pernah lunas. Di kepala, aku bertanya berkali-kali: di mana aku salah?

Namun setiap pagi, aku tetap bangun. Bukan karena kuat, tapi karena tidak ada pilihan lain. Anak-anakku masih butuh makan. Istriku masih butuh kepastian, meski aku belum bisa memberikannya.

Mungkin hidupku memang seperti sajak lapuk tak lagi utuh, tak lagi indah. Tapi di antara baris-baris yang mulai pudar itu, masih ada satu hal yang tersisa:
Aku belum menyerah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]