Full width home advertisement

OPINI ACAK

JENAKA POS

Post Page Advertisement [Top]

Setiap kali Muharram datang, sebagian orang menyambutnya sebagai awal tahun baru dalam kalender Hijriah. Namun bagi banyak umat Islam, terutama mereka yang mengenang tragedi Karbala, Muharram bukan sekadar pergantian tahun. Muharram adalah bulan duka. Bulan yang mengingatkan manusia bahwa sejarah pernah dipenuhi air mata, pengkhianatan, dan keberanian melawan kezaliman.

Muharram bukan hanya tentang mengenang wafatnya cucu Nabi Muhammad, tetapi juga tentang menghidupkan nilai-nilai yang diperjuangkannya. Tragedi Karbala mengajarkan bahwa diam terhadap ketidakadilan adalah awal dari kemenangan kezaliman.

Sayangnya, berabad-abad setelah Karbala, bentuk-bentuk ketidakadilan masih hidup. Wajahnya saja yang berubah.

Hari ini, kemiskinan sering kali bukan sekadar akibat kemalasan, tetapi juga lahir dari sistem yang tidak adil. Ada orang yang bekerja dari pagi hingga malam, namun tetap tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarganya. Ada anak-anak yang kehilangan masa depan karena pendidikan mahal. Ada petani yang menghasilkan pangan, tetapi hidupnya sendiri kekurangan. Ada nelayan yang dikelilingi laut, namun kesulitan membeli beras.

Muharram mengajak kita bertanya: apakah penderitaan seperti ini hanya angka statistik, atau sebenarnya merupakan bentuk kezaliman yang harus dilawan?

Ketidakadilan tidak selalu hadir dalam bentuk pedang. Ia bisa hadir melalui korupsi, monopoli ekonomi, penyalahgunaan kekuasaan, hukum yang tajam ke bawah namun tumpul ke atas, hingga sikap masyarakat yang membiarkan tetangganya kelaparan tanpa kepedulian.

Karbala mengajarkan bahwa melawan kezaliman tidak selalu berarti mengangkat senjata. Kadang-kadang, keberanian terbesar adalah mengatakan kebenaran ketika semua orang memilih diam. Membela yang lemah ketika mayoritas memilih berpihak kepada yang kuat. Menolak mengambil hak orang lain, sekalipun tidak ada yang melihat.

Muharram juga menjadi pengingat bahwa kemiskinan bukan sekadar persoalan ekonomi. Kemiskinan adalah ujian moral bagi masyarakat. Ketika sebagian orang hidup dalam kemewahan yang berlebihan sementara sebagian lain tidak mampu makan sehari-hari, maka yang perlu dipertanyakan bukan hanya nasib orang miskin, tetapi juga nurani orang-orang yang hidup berkecukupan.

Islam mengajarkan zakat, infak, sedekah, dan kepedulian sosial bukan sekadar ritual ibadah. Semua itu adalah instrumen untuk mencegah jurang sosial semakin lebar. Sebab masyarakat yang membiarkan kesenjangan tumbuh tanpa batas sedang menyiapkan bibit konflik di masa depan.

Muharram mengajarkan bahwa air mata tidak boleh berhenti pada ratapan. Air mata harus melahirkan kepedulian. Duka harus berubah menjadi gerakan. Peringatan harus menjadi perbaikan.

Jika setiap Muharram kita hanya mengenang sejarah tanpa memperjuangkan nilai-nilainya, maka Karbala tinggal menjadi cerita. Namun jika Muharram menggerakkan hati untuk melawan kemiskinan, membela kaum tertindas, menegakkan keadilan, dan menguatkan solidaritas sosial, maka semangat Karbala tetap hidup di setiap zaman.

Muharram adalah bulan duka. Tetapi lebih dari itu, Muharram adalah panggilan untuk membangun masyarakat yang lebih adil. Sebab duka yang paling menyedihkan bukan hanya tragedi yang terjadi di masa lalu, melainkan ketika ketidakadilan terus berlangsung hari ini dan kita memilih untuk tidak berbuat apa-apa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]