Full width home advertisement

OPINI ACAK

JENAKA POS

Post Page Advertisement [Top]


#Jenaka #IsnulArRidha #

Sudah dua hari saya berkeliling Kota Palopo. Bukan mencari cinta yang hilang, bukan pula mengejar janji kampanye yang tercecer. Saya hanya mencari satu benda yang konon beredar di tengah masyarakat, tetapi wujudnya lebih sulit ditemukan daripada mantan yang sudah move on: tabung gas melon 3 kg.

Saya menyusuri pangkalan demi pangkalan. Bertanya dari lorong ke lorong. Wajah para pencari gas mulai menyerupai ekspresi para arkeolog yang sedang memburu fosil dinosaurus. Semua punya cerita, tetapi tidak ada yang punya tabung.

"Sudah habis, Pak."

Kalimat itu terdengar lebih sering daripada azan selama dua hari terakhir.

Hingga pada Selasa dini hari, tepat pukul 01.21 WITA, sebuah keajaiban terjadi. Seorang dinda dari Bahlil bernama Ichal datang membawa tabung gas melon. Saya sempat mengucek mata. Jangan-jangan ini mimpi. Jangan-jangan ini hologram. Jangan-jangan ini efek begadang.

Ternyata benar. Itu tabung gas asli.

Saat itulah saya mulai berpikir. Mungkin ada hubungan ilmiah yang belum pernah diteliti antara Bahlil, Ichal, dan HMI.

Ichal adalah orator. HMI adalah rumah kader. Bahlil adalah salah satu alumni besar HMI yang namanya selalu muncul dalam berbagai diskusi, dari ekonomi nasional sampai warung kopi pinggir jalan.

Sementara tabung gas melon adalah benda yang akhir-akhir ini lebih sering dibicarakan daripada hasil pertandingan domino.

Maka lahirlah teori baru:

Bahlil, Ichal, HMI, dan tabung gas melon adalah satu kesatuan ekosistem yang tidak terpisahkan.

Jika Bahlil berbicara soal energi, masyarakat berbicara soal gas. Jika HMI berbicara tentang perubahan sosial, ibu-ibu berbicara tentang kapan bisa memasak lagi. Jika Ichal berorasi di jalan, saya berorasi di depan pangkalan gas.

Perbedaannya cuma satu.

Ichal berhasil mendapatkan perhatian massa.

Saya tidak berhasil mendapatkan tabung.

Bahkan saya mulai curiga, jangan-jangan tabung gas melon kini telah naik status menjadi makhluk mitologi. Seperti Naga, Unicorn, atau janji "barang datang besok" yang diucapkan beberapa agen.

Untunglah Ichal hadir sebagai penyelamat peradaban dapur. Kalau tidak, mungkin sejarah akan mencatat bahwa saya menjadi korban kelangkaan energi pada abad ke-21.

Dari peristiwa ini saya belajar bahwa negara boleh memiliki cadangan energi, tetapi rumah tangga hanya membutuhkan satu hal sederhana:

satu tabung gas yang terisi penuh.

Karena bagi ibu-ibu, energi nasional bukanlah soal statistik dan presentasi. Energi nasional adalah saat kompor menyala dan ikan goreng bisa matang.

Dan bagi saya, setelah dua hari pencarian, tabung gas melon bukan lagi barang subsidi.

Ia telah berubah menjadi artefak langka.

Bahlil, Bahlil... tabung langka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]