Hari ini aku kembali pulang dengan langkah yang lebih berat dari biasanya.
Aku telah berusaha, mungkin belum maksimal, atau mungkin memang begini bentuk ujian yang harus kulewati. Saku celanaku kering. Tempat beras kosong. Air minum pun tak bersisa. Bahkan tabung gas hanya menyisakan dingin yang tak berguna.
Hari ini, semuanya terasa menumpuk dalam satu waktu.
Tangisan si kecil mulai menggema di sudut rumah. Tangisan yang jujur, tanpa pura-pura. Tangisan yang tidak mengerti alasan, hanya mengerti rasa lapar. Istriku mendekat, berusaha menenangkan dengan suara pelan. Ia terlihat cemas, bukan hanya pada anak kami, tapi juga pada telinga tetangga yang mungkin mendengar.
“Pelan… nanti orang dengar,” bisiknya lirih.
Aku menunduk. Bahkan untuk sekadar mendengar tangisan anak sendiri, aku merasa seperti tertampar berkali-kali.
Siang tadi aku mencoba mengetuk beberapa pintu orang yang pernah kukenal, yang dulu pernah tertawa bersamaku. Setiap langkah terasa berat, bukan karena jarak, tapi karena rasa malu yang mengikat kaki.
Aku meminta bantuan.
Sesuatu yang dulu kupikir tak akan pernah kulakukan dengan suara gemetar seperti itu.
Namun hasilnya… nihil.
Ada yang tidak ada di tempat. Ada yang hanya tersenyum kaku. Ada yang berjanji, tapi aku tahu janji itu tak akan kembali padaku hari ini.
Aku pulang dengan tangan kosong, tapi membawa beban yang jauh lebih penuh.
Di dalam rumah, istriku tak banyak bicara. Ia hanya menatapku sekilas, lalu kembali menenangkan anak-anak. Tatapan itu bukan marah sepenuhnya, tapi juga bukan pengertian sepenuhnya. Mungkin di sana ada lelah, kecewa, dan harapan yang mulai retak.
Aku duduk di sudut ruangan.
Untuk pertama kalinya hari ini, aku merasa benar-benar kecil.
Bukan karena dunia terlalu besar, tapi karena aku gagal memenuhi hal paling sederhana: memberi makan keluargaku.
Tangisan si kecil perlahan mereda, mungkin karena lelah. Atau mungkin karena ia mulai belajar bahwa tangis pun tak selalu membawa jawaban.
Dan di antara sunyi yang tersisa, aku kembali bertanya pada diriku sendiri. Berapa lama lagi aku bisa bertahan seperti ini?
Namun seperti hari-hari sebelumnya, pertanyaan itu tidak pernah benar-benar meminta jawaban.
Karena besok, aku tetap harus bangun.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar