Full width home advertisement

OPINI ACAK

JENAKA POS

Post Page Advertisement [Top]


Hari ini aku sakit.

Tubuhku lemah, seperti kehilangan alasan untuk berdiri. Semua rencana yang sempat kususun di kepala buyar begitu saja. Hari ini, aku merasa menjadi manusia paling tak berguna.

Semua masih tetap sama.

Kosong.

Tak ada beras. Tak ada air. Tak ada api untuk sekadar memasak harapan. Rumah ini seperti menahan napas, menunggu sesuatu yang tak kunjung datang.

Di sudut ruangan, suara lirih kembali terdengar.

“Pak… lapar…”

Pelan. Hampir tak terdengar. Tapi justru itu yang paling menyakitkan.

Aku ingin menjawab. Ingin berkata, “sebentar lagi,” seperti biasa. Tapi hari ini, kata-kata itu terasa seperti kebohongan yang terlalu sering diulang.

Aku hanya menutup mata.

Seolah dengan begitu, aku bisa menunda kenyataan.

Istriku tak lagi menahan. Air matanya tumpah begitu saja. Ia berusaha diam, tapi bahunya bergetar. Tangannya tetap mengusap kepala anak-anak kami, seakan ingin menggantikan sesuatu yang tak mampu kuberikan.
Aku memalingkan wajah.

Bukan karena tak peduli, tapi karena aku tak sanggup melihatnya lebih lama. Rasa sakit di tubuhku kalah telak oleh rasa sakit di dalam dada.

Untuk pertama kalinya, aku bertanya dengan jujur.

Apa gunanya aku di rumah ini… jika bahkan untuk sekadar memberi makan pun aku tak mampu?

Aku yang seharusnya menjadi penopang, justru menjadi beban.

Aku yang seharusnya kuat, justru terbaring tanpa daya.

Waktu berjalan lambat. Terlalu lambat.

Tangisan perlahan berubah menjadi diam. Bukan karena kenyang, tapi karena lelah. Istriku menyandarkan punggung ke dinding, memeluk anak-anak kami dalam diam yang panjang.

Dan aku…

Aku hanya bisa berbaring, menatap langit-langit yang kusam, sambil berharap

Entah pada apa.

Mungkin pada Tuhan.
Mungkin pada esok.
Atau mungkin… pada sisa diriku yang belum benar-benar hancur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]