Kadang aku heran, bagaimana anak-anak bisa tetap tertawa di rumah yang nyaris kehabisan segalanya.
Aku justru yang semakin rapuh.
Mereka mulai sering bercanda denganku ketika aku menyendiri. Mungkin mereka tahu aku sedang banyak pikiran, meski mereka belum benar-benar mengerti apa itu beban hidup.
Si kembar kadang menarik lenganku, mengajakku bermain pura-pura. Anak lelakiku sering duduk di dekatku tanpa bicara apa-apa. Dan si adek… dia yang paling sering membuat rumah tetap hidup.
Tadi sore ia nyeletuk sambil mengunyah pelan,
“Kayaknya tempe kecap lagi besok, ya?”
Lalu ia tertawa kecil.
Aku ikut tersenyum, meski di dalam dada ada sesuatu yang terasa diremas.
Sejak pagi hingga malam, menu kami memang sama: tempe kecap dan nasi. Tidak buruk sebenarnya, hanya saja, sebagai seorang ayah, ada rasa sakit ketika anak-anak mulai hafal rasa keterbatasan.
Tadi aku punya uang tiga puluh lima ribu.
Jumlah kecil yang harus terasa cukup untuk enam orang.
Aku pergi ke warung kompleks dengan niat membeli makan yang sedikit lebih baik untuk malam ini. Lima ribu untuk sayur, sepuluh ribu untuk tahu dan tempe, dan dua puluh ribu untuk seekor ikan bakar ekor kuning.
Aku sudah membayangkan wajah anak-anak ketika melihat ikan di meja makan.
Mungkin malam ini mereka bisa makan lebih lahap.
Namun di warung itu, aku bertemu seseorang yang kukenal.
Ia memperhatikanku sejak tadi, meski kami hanya berbicara seperlunya. Ketika aku hendak membayar, ia justru mengembalikan uangku sambil memberi isyarat bahwa semuanya sudah dibayar olehnya.
Aku sempat menolak.
Entah karena malu, atau karena harga diriku terlalu lelah untuk disentuh belas kasihan.
“Tida usah,” kataku pelan.
Namun tiba-tiba aku teringat pesan seorang ustad yang pernah kudengar:
Jangan menolak pemberian seseorang yang ikhlas. Bisa jadi itu menjadi pintu rezeki bagi dirinya, dan jalan pertolongan bagi kita.
Aku akhirnya diam.
Tanganku menggenggam uang tiga puluh lima ribu itu kembali, dan entah kenapa… mataku terasa panas.
Bukan karena jumlah makanannya.
Bukan juga karena uangnya.
Tapi karena di saat aku mulai merasa dunia begitu keras, ternyata masih ada orang yang diam-diam menjaga perasaan orang lain saat membantu.
Ia tidak membuatku merasa hina.
Ia membuatku merasa masih dianggap manusia.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku pulang membawa makanan… dan sedikit harapan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar