Full width home advertisement

OPINI ACAK

JENAKA POS

Post Page Advertisement [Top]


Rencana pulang kampung untuk menunaikan salat Iduladha akhirnya batal.

Aku hanya bisa mengusap dada.

Kami berlima tetap tinggal di Palopo.

Sejak beberapa hari sebelumnya, sebenarnya aku sudah mencoba menghitung-hitung kemungkinan. Paginya, kucek isi kantong. Ada dua puluh ribu rupiah.

Secara logika, uang itu cukup untuk bensin pergi dan pulang kampung.

Tapi logika lain segera datang menghantam:
kami berlima… hanya dengan satu motor.

Aku bahkan sempat tertawa kecil memikirkannya.

Entah menertawakan keadaan, atau menertawakan diriku sendiri yang masih saja mencoba berharap di tengah keterbatasan.

Lalu kemarin, sekitar pukul sebelas lewat tiga puluh, pesan WhatsApp dari seorang teman masuk.

Tidak ada angin, tidak ada hujan.

Tiba-tiba ia meminta nomor rekeningku.

Aku kirim seadanya tanpa banyak berpikir.

Tak lama kemudian, masuk dua ratus ribu rupiah.

Aku terdiam cukup lama melihat angka itu.

Di kepalaku langsung muncul satu niat:
“Cukuplah ini untuk pulang kampung.”

Aku membayangkan anak-anak bisa bertemu keluarga. Aku membayangkan makan bersama di rumah kampung, suasana lebaran yang lebih hangat, dan mungkin… sedikit melupakan berat hidup barang sehari.

Tapi niat itu gagal lagi.

Bukan karena uangnya kurang.

Melainkan karena aku sadar, dua ratus ribu itu akan jauh lebih berguna bila kami tetap tinggal di Palopo.

Akhirnya uang itu kubelikan ayam dan bumbu seadanya untuk menyambut Iduladha.

Dan begitulah…

Kami memilih bertahan di kota ini.

Pagi Iduladha, kami salat di masjid kompleks dekat rumah. Anak-anak terlihat senang memakai pakaian terbaik yang mereka punya, meski sederhana. Aku memandang mereka diam-diam, mencoba menyimpan momen itu dalam hati.

Sepulang dari masjid, kami tidak pergi ke mana-mana lagi.

Bahkan membuka pintu rumah pun tidak.
Entah karena malu, atau karena memang tidak ada tujuan.

Di dalam rumah kecil itu, aku membisikkan sesuatu pada istriku:
“Maaf… karena belum bisa jadi yang terbaik. Kita masih terus berjuang.”

Ia tidak menjawab banyak.

Hanya mengangguk pelan.

Dan kadang, diam seperti itu lebih menenangkan daripada seribu nasihat.

Siang harinya, aku membuka aplikasi untuk mengecek tagihan-tagihan yang belum sempat kubayar sejak bulan Mei.

Aku mencoba menguatkan diri sebelum melihat angka-angka itu.

Dan ternyata benar.

Ada tagihan tiga ratus enam puluh ribu rupiah.

Listrik PLN.

Aku menatap layar cukup lama.

Lalu tanpa sadar aku tertawa kecil.

Istriku ikut melihat.

Anak-anak yang tidak mengerti apa-apa malah ikut tertawa juga.

Dan anehnya, suasana rumah yang tadi dipenuhi sedih karena gagal pulang kampung… berubah menjadi tawa bersama karena kami lupa ada tagihan sebesar itu, sementara isi kantong sudah benar-benar kosong.

Kadang hidup memang seperti itu.

Di titik tertentu, seseorang bisa begitu lelah sampai akhirnya hanya mampu tertawa.

Bukan karena semuanya baik-baik saja.

Tapi karena kalau tidak tertawa, mungkin kami akan menangis lebih lama lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]